Ribuan Orang Memeriahkan Upacara Adat Pager Bumi

paferUpacara Adat Pager Bumi “Sedekah Sapar Rebo Wekasan” yang digelar oleh masyarakat Dusun Pulesari Wonokerto Turi Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta Minggu 13 Januari 2013 silam berlangsung meriah dan hikmat.Kepala Seksi Dokumentasi dan Informasi Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Wasita mengatakan 2.000 lebih masyarakat Pulesari dan sekitarnya turut memeriahkan dan menyaksikan kirab budaya sebagai puncak acara upacara adat Pager Bumi.

“Kirab budaya upacara adat Pager Bumi yang dilaksanakan dari  halaman Masjid Darussalam menuju ke Makam Pulesari dengan jarak 1,5 km memukau pengunjung,” kata Wasita dalam rilisnya kepada media, Senin (14/1).

Berbagai kelompok seni dan budaya  berpartisipasi memeriahkan kirab budaya upacara adat Pager Bumi.  Mereka meliputi Bregada Pager Bumi, pasukan pembawa Tombak Kyai Pule, pasukan pembawa Keris Kyai Panjolo.Juga ada pasukan pembawa Mustoko tinggalan Kyai Somonawi, pasukan pembawa gunungan wulu wetu, pasukan pembawa gunungan kupat, pasukan pembawa ambengan, bregada tani, bregada penari kubrosiswo, bregada rampak buto “Siswo Kawedar”.

Upacara Adat Pager Bumi “Sedekah Sapar Rebo Wekasan” dimaksudkan sebagai bentuk ungkapan syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa atas berkah dan rahmat yang diberikan kepada warga masyarakat setempat.Upacara adat Pager Bumi dilakukan untuk memperingati Khoul Nyai Pulesari dan Kyai Ahmad Nurrohman. Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan pengajian oleh KH. Zaenal Musyafa dari Ngluwar Magelang yang sekaligus menyampaikan sejarah berdirinya Dusun Pulesari dengan adegan fragmen wayang kulit.

Kyai Ahmad  berharap agar kedepan warga masyarakat Pulesari dapat lebih bersemangat dan bersatu padu dalam mempertahankan tradisi budaya Upacara Adat Pager Bumi maupun dalam mengelola kawasannya sebagai sebuah desa wisata.

Sehingga diharapkan di masa depan Desa Wisata Pulesari dapat berkompetisi positif dengan desa wisata yang lain serta mampu melakukan percepatan dalam pengembangannya. Karena selama ini masih terdapat desa wisata yang terkesan monoton dan stagnan dalam perkembangannya sehingga belum menjadi destinasi yang memiliki keunggulan kompetitif maupun keunggulan komparatif.

Pos ini dipublikasikan di News Desa Wisata. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s