SENI DAN BUDAYA

KESENIAN TARI SALAK

 

Tarian Salak ini adalah Wujud tarian masyarakat dari sebuah pontensi salak pondoh yang ada diDusun pulesari Sehingga dikembangkan menjadi sebuah tarian salak pondoh tersebut yang dapat menjadi daya tarik tersendiri.tari salak ini dipernakan oleh 4 Penari laki-laki sebagai pembawa tandu atau tempat salak,2 laki-laki sebagai penari burung berkicau yang menjadi hama penggangu tanaman salak pondoh serta 8 pemain Perempuan sebagai penari latar yang diharapakan menjadi daya tarik dalam pementasan ” Tarian Salak Pondoh “

KESENIAN KUBRO SISWO

 

Kesenian ini adalah kesenian kubro siswo bernuansa Religi untuk Dikolaborasikan dengan gamelan dan musik-musik islami sehingga Bisa menjadi sebuah sajian Tarian Budaya Religi

SEJARAH

Berawal dari keinginan beberapa warga sekitar yang pernah bermain Tari Kobro di daerah lain dan dimotivasi oleh beberapa anak kuliah kerja nyata yang pada waktu itu menetap di Pulesari, Sleman Yogyakarta. mereka mencoba membuat suatu kesenian Tari Kobro yang mereka kembangkan sendiri. Pada pentas seni hari kemerdakaan 17 Agustus 2002, mereka mementaskan tarian Kobro yang telah dipelajarinya tersebut di kampung Pulesari. Sambutan hangat dari warga Pulesari terhadap tarian ini, membuat warga semakin terdorong untuk melestarikan dan mengembangkanya menjadi lebih menarik. Tari Kobro pada dari Kampung Pulesari ini kemudian diberi nama “Putro Mudo”, yang selalu tampil setiap 22 Agustus untuk memperingati hari lahirnya tarian ini di kampung Pulesari.

PUTRO MUDO

Kesenian Tari Kobro Pulesari yang membawa nama Putro Mudo” ini mempunyai cerita tersendiri kenapa dinamai demikian. Awal kisahnya adalah pada jaman Nabi Muhammad SAW dimana terdapat pemuda-pemuda sebagai anshor atau pengawal Nabi beserta sahabat-sahabatnya. Mereka ini berjuang demi menegakkan ajaran Islam. Dalam tarian Kobro, pemuda-pemuda yang menjadi penarinya ini seolah menggambarkan anshor atau pengawal Nabi tersebut yang berjuang bersama untuk menegakkan ajaran Islam, yang ditunjukkan oleh adanya adegan peperangan.

ATRAKSI 
Tari Kobro “Putro Mudo” dipertunjukkan dalam enam  babak yang berurutan. Dimana babak pertama adalah Rodat Kecil yang terdiri dari beberapa penari anak-anak. Kemudian diteruskan dengan Rodat Remaja yang terdiri dari beberapa penari pemuda usia remaja. Setelah itu adalah Rodat Putri yang terdiri dari penari-penari putri. Lalu Rodat Pasangan yang terdiri dari beberapa pasang laki-laki dan perempuan. Setelah itu Rodat Besar yang sebagian besar penarinya adalah bapak-bapak. Dan terakhir ditutup dengan Setrat, dimana dalam babak ini usia penarinya bervariasi namun semuanya adalah pria. Dalam babak Setrat ini tariannya bebas, bisa tarian semacam badui, campursari maupun tari piring.

PRESTASI
1.    Juara I Festival Kesenian Daerah se-Kabupaten Sleman di Kec. Moyudan, Yogyakarta
2.    Pesona Budaya Nusantara 2004 mewakili D.I Yogyakarta di Taman Mini, Jakarta
3.    Adeging Nagari mewakili D.I Yogyakarta di Taman Mini, Jakarta
4.    Pisowanan Agung di Keraton Yogyakarta
5.    Pembukaan MTQ 2006 di Kabupaten Sleman, Yogyakarta
6.    Setiap tahun selalu tampil di Objek Wisata Kaliurang, Yogyakarta
7.    Setiap tahun selalu tampil untuk memperingati Hari Jadi Kabupaten Sleman, Yogyakarta, dll.
Selain sering tampil dalam festival dan acara-acara kesenian yang kebanyakan diadakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Yogyakarta, kesenian tari Kobro “Putro Mudo” juga sering diundang oleh masyarakat umum untuk memeriahkan acara mereka. Hal ini membuktikan bahwa kesenian tari Kobro “Putro Mudo” telah mendapat hati di benak masyarakat umum, sehingga layak diangkat menjadi wisata budaya khas kampung Pulesari, Sleman, Yogyakarta.

PRAJURIT BERGODO

  

Bergodo/prajurit ini merupakan gerakan barisan yang dilatih secara khusus yang pada zaman dahulu dimiliki oleh kerajaan-kerajaan untuk mengiringi raja atau permaisuri ketika berpergian namun saat ini telah dikembangkan dan dilestarikan oleh masyarakat Dusun Pulesari dipentaskan untuk Mengiringi kegiatan upacara adat diwilayah kami dan kegiatan budaya lainya yang ada dikabupaten sleman.barisan prajurit bergodo ini selalu ditempatkan pada dibarisan utama untuk mengawal acara dan rombongan ketika ada acara upacara tersebut.Bergodo ini bernama “Bergodo pager Bumi”

KESENIAN RELIGI HADROH

Hadroh/Sholawat ini merupakan kesenian Religi Bernuansa islami dengan musik yang dilantutkan sholwat-sholawat nabi yang sering melakuan pentas di acara Pengajian , pernikahan.kelahiran bayi dll.

UPACRA ADAT PAGER BUMI

daKegiatan Upacara Adat ini menjadi kegiatan Rutin tahunan disetiap Bulan Sapar sebagai wujud syukur atas hasil bumi yang telah diberikan Disajiakan dalam sebuah upacara tradisi masyarakat.

Kirab budaya upacara adat Pager Bumi yang dilaksanakan dari  halaman Masjid Darussalam menuju ke Makam Pulesari dengan jarak 1,5 km memukau pengunjung,”.Berbagai kelompok seni dan budaya  berpartisipasi memeriahkan kirab budaya upacara adat Pager Bumi.  Mereka meliputi Bregada Pager Bumi, pasukan pembawa Tombak Kyai Pule, pasukan pembawa Keris Kyai Panjolo.Juga ada pasukan pembawa Mustoko tinggalan Kyai Somonawi, pasukan pembawa gunungan wulu wetu, pasukan pembawa gunungan kupat, pasukan pembawa ambengan, bregada tani, bregada penari kubrosiswo, bregada rampak buto “Siswo Kawedar”.

Upacara Adat Pager Bumi “Sedekah Sapar Rebo Wekasan” dimaksudkan sebagai bentuk ungkapan syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa atas berkah dan rahmat yang diberikan kepada warga masyarakat setempat.Upacara adat Pager Bumi dilakukan untuk memperingati Khoul Nyai Pulesari dan Kyai Ahmad Nurrohman. Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan pengajian oleh KH. Zaenal Musyafa dari Ngluwar Magelang yang sekaligus menyampaikan sejarah berdirinya Dusun Pulesari dengan adegan fragmen wayang kulit.

Kyai Ahmad  berharap agar kedepan warga masyarakat Pulesari dapat lebih bersemangat dan bersatu padu dalam mempertahankan tradisi budaya Upacara Adat Pager Bumi maupun dalam mengelola kawasannya sebagai sebuah desa wisata.Sehingga diharapkan di masa depan Desa Wisata Pulesari dapat berkompetisi positif dengan desa wisata yang lain serta mampu melakukan percepatan dalam pengembangannya. Karena selama ini masih terdapat desa wisata yang terkesan monoton dan stagnan dalam perkembangannya sehingga belum menjadi destinasi yang memiliki keunggulan kompetitif maupun keunggulan komparatif.

UPACARA ADAT SADRANAN

3Desa Pulesari Dalam Setiap Tahunya pada Bulan Ruwah Menjelang Bulan Puasa Selalu Melaksanakan Sebuah Rangkaian Tradisi dan budaya masyarakat desa yang disebut dengan “SADRANAN” ini merupakan kegiatan religi masyarakat dimana kegiatan ini diadakan dimakam atau halaman kuburun yang disitu dikemas dengan rangkain kegiatan diantara Tahlilan dan pengajian.

Sadranan ini merupakan simbul atau wujud kita yang berbakti kepada orang yang telah mendahului kita dengan cara berdoa bersama kepada Allah SWT agar Almarhum dan Almarhumah yang sudah meninggal dunia diberikan ampunan baik didunia maupun akhirat.serta memohonkan ampunan atas kesalahan  ketika didunia banyak kesalahan agar tidak menjadi beban untuk menghadap kepada Allah SWT.

Sadranan ini setiap orang atau tamu yang hadir diberikan Snack yang dikemas dalam bungkus kemudian dimakan ditempat secara bersama dan setelah acara selesai tamu dan hadirin yang pulang diberikan dalam bahasa jawa BERKAT atau nasi+lauknya yang dibungkus besek kemudian diberikan kepada seluruh tamu hadirin semua.sebagai wujud sodaqoh wujud syukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT.Pada bulan Ruwah kalender Jawa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s